
RAHASIAGAME. Industri game selalu penuh risiko. Bahkan proyek yang dibekali dana besar, tim berpengalaman, dan ekspektasi tinggi bisa saja berakhir mengecewakan. Hal itulah yang terjadi pada MindsEye, game ambisius garapan Build a Rocket Boy. Alih-alih menjadi tonggak baru dalam genre open-world sci-fi, game ini justru tercatat sebagai salah satu kegagalan besar tahun 2025.
Lebih jauh lagi, kegagalan ini menyeret nama IO Interactive, studio yang selama ini dikenal lewat seri Hitman. Melalui divisi baru bernama IOI Partners, mereka mencoba melebarkan sayap menjadi penerbit pihak ketiga. Sayangnya, debut yang diharapkan membawa kejayaan justru berbalik menjadi bumerang.
Awal yang Penuh Harapan
IOI Partners resmi diumumkan pada 2024. Tujuannya sederhana namun ambisius: memberi ruang bagi studio lain untuk merilis karya mereka dengan dukungan penerbitan dari IO Interactive. Proyek perdana adalah MindsEye, yang dianggap punya semua modal untuk sukses.
Bagaimana tidak? Game ini dipimpin oleh Leslie Benzies, sosok yang dahulu berperan besar dalam kesuksesan Grand Theft Auto. Nama besar Benzies membuat ekspektasi melambung tinggi. Dunia futuristik bernama Redrock, kisah tentang mantan tentara Jacob Diaz, serta misteri implan neural MindsEye terdengar menjanjikan di atas kertas.
Sayangnya, semua optimisme itu runtuh begitu game benar-benar meluncur pada 10 Juni 2025.
Peluncuran yang Mengecewakan
Begitu rilis di PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan PC, MindsEye langsung menuai badai kritik. Di Steam, rating pemain jatuh ke level Mostly Negative, sementara Metacritic menunjukkan skor rendah yang mencerminkan kekecewaan kritikus maupun gamer.
Masalah yang ditemui cukup beragam:
- Bug teknis yang mengganggu jalannya permainan.
- AI yang buruk, membuat musuh terlihat tidak menantang.
- Cutscene berlebihan, yang terasa memperlambat alur.
- Cerita dangkal serta karakter utama yang dianggap “generik”.
Beberapa pengulas bahkan menyebut game ini terasa lebih seperti produk setengah matang daripada sebuah rilis penuh. Lebih parah lagi, sebagian pemain menduga cutscene panjang di awal game sengaja ditempatkan agar durasi bermain melampaui batas waktu refund digital.
Dampak Serius PHK hingga Tuduhan Sabotase
Tak lama setelah peluncuran, Build a Rocket Boy melakukan PHK besar-besaran, memotong hampir sepertiga dari total karyawan. Keputusan ini memperlihatkan betapa besar kerugian finansial yang mereka tanggung.
Namun, alih-alih rendah hati menerima kritik, pihak manajemen justru mengeluarkan pernyataan kontroversial. CEO dan co-CEO menuding ada sabotase internal dan eksternal, bahkan menyebut kampanye berbayar untuk menjatuhkan MindsEye. Tuduhan ini justru membuat mereka semakin jadi bahan olok-olok, dengan banyak pihak menyebutnya “teori konspirasi” yang tidak berdasar.
IOI Partners dalam Posisi Sulit
Bagi IO Interactive, kegagalan MindsEye menjadi pukulan telak. Hakan Abrak, CEO IOI, dalam wawancara dengan media, mengakui bahwa pengalaman ini jauh dari harapan. Ia bahkan menyatakan bahwa IOI kemungkinan besar akan kembali fokus pada proyek internal, alih-alih menerbitkan karya pihak ketiga dalam waktu dekat.
Padahal, IOI Partners awalnya digadang-gadang bisa membuka pintu kolaborasi luas, memperkaya industri game, dan memperkuat posisi IOI di pasar global. Kini, rencana besar itu tergantung tanda tanya. Apakah IOI Partners akan tetap berjalan, atau justru dibekukan setelah hanya satu kali percobaan?
Upaya Tambal Sulam Patch dan Update
Meski sudah menuai banyak kritik, Build a Rocket Boy masih mencoba memperbaiki keadaan. Mereka merilis beberapa patch untuk mengatasi masalah teknis, memperbaiki UI, meningkatkan AI, serta memperlancar performa. Update terbaru bahkan menjanjikan peningkatan kualitas visual dan pengalaman bermain secara keseluruhan.
Namun, seperti yang sering terjadi pada game yang sudah terlanjur memiliki reputasi buruk, kepercayaan pemain sulit dipulihkan. Jumlah pengguna aktif di Steam tetap rendah, sementara diskusi di forum-forum lebih banyak bernada sinis daripada apresiatif.
Cerminan Risiko di Industri Game
Kisah MindsEye memberi pelajaran penting:
- Nama besar saja tidak cukup. Meski dipimpin veteran industri, tanpa eksekusi yang matang, hasil bisa mengecewakan.
- Ekspektasi tinggi adalah pedang bermata dua. Janji besar sebelum rilis bisa berbalik menjadi bumerang jika produk tak sesuai.
- Publisher juga menanggung risiko. IOI Partners mungkin bukan pengembangnya, tetapi reputasi mereka ikut tercoreng.
- Dalam kasus ini, IOI harus menimbang ulang apakah akan melanjutkan misi mereka sebagai penerbit pihak ketiga.
Masa Depan yang Masih Abu-abu
Pada akhirnya, MindsEye bukan sekadar game yang gagal, tetapi juga simbol bagaimana satu proyek bisa memengaruhi ekosistem yang lebih luas. IO Interactive kini berada di persimpangan jalan: apakah tetap mencoba jalur penerbitan eksternal, atau mundur dan hanya fokus pada karya internal seperti seri Hitman dan proyek 007 yang sudah dinanti?
Yang jelas, kegagalan ini akan lama dikenang, baik oleh penggemar maupun para pelaku industri. MindsEye mungkin masih akan mendapatkan patch, tapi noda reputasi yang ditinggalkan tidak mudah terhapus. Bagi IOI Partners, inilah ujian pertama sekaligus mungkin yang terakhir.