Rahasia Game

Rahasia Game Online Indonesia

RAHASIAGAME. Industri game kembali diramaikan dengan kabar mengejutkan yang datang dari platform distribusi digital terbesar di dunia Steam. Sebuah game horor indie berjudul HORSES, yang dikembangkan oleh studio kecil Santa Ragione, resmi ditolak peredarannya. Keputusan Steam ini memicu diskusi panjang dan memunculkan banyak pertanyaan, terutama karena alasan pelarangan tidak pernah dijelaskan secara detail kepada publik maupun pihak developer.

Padahal, HORSES merupakan proyek besar bagi Santa Ragione studio yang sebelumnya dikenal lewat game unik seperti MirrorMoon EP dan Wheels of Aurelia. Sayangnya, nasib HORSES tampaknya harus berbelok jauh dari rencana awal setelah Steam menyatakan bahwa game tersebut tidak memenuhi kebijakan konten mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa game ini begitu menuai kontroversi? Dan bagaimana keputusan ini berdampak pada masa depan studio? Berikut pembahasannya.

HORSES Game Horor dengan Pendekatan Tak Lazim

Secara garis besar, HORSES merupakan game horor naratif yang mengambil sudut pandang orang pertama. Pemain berperan sebagai pekerja musiman yang dipekerjakan di sebuah peternakan terpencil. Namun, alih-alih berisi hewan sungguhan, “kuda” dalam peternakan tersebut ternyata adalah manusia dewasa yang telanjang dan mengenakan topeng kuda. Mereka diperlakukan seperti ternak oleh pemilik peternakan.

Konsep game ini sejak awal memang tidak dirancang sebagai horor penuh jumpscare. HORSES lebih mengedepankan ketegangan psikologis dan simbolisme, menggunakan situasi ekstrem untuk menggali tema mengenai kuasa, dehumanisasi, eksploitasi, hingga batas moral manusia. Banyak pemain yang mengikuti perkembangan game ini menganggap pendekatannya unik dan dewasa bukan dibuat untuk sensasi murahan, tetapi sebagai bentuk kritik sosial.

Walau begitu, konten semacam ini memiliki risiko tinggi menimbulkan interpretasi yang keliru. Desain karakter “kuda-manusia” yang tanpa busana, elemen kekerasan, serta atmosfer psikologis yang intens berpotensi dianggap melanggar batas oleh sebagian pihak. Di sinilah letak akar kontroversi yang akhirnya menyeret HORSES keluar dari Steam.

Alasan Steam Menolak HORSES

Santa Ragione menjelaskan bahwa mereka menerima pemberitahuan resmi dari Steam yang menyatakan bahwa HORSES tidak dapat dirilis di platform tersebut. Namun, mereka tidak menerima rincian bagian mana dari game yang dianggap melanggar, atau aturan spesifik apa yang tidak dipatuhi.

Satu-satunya petunjuk yang mereka dapatkan hanyalah bahwa game tersebut dianggap mengandung konten “sensitif”, yang kemungkinan terkait tema seksual dalam konteks dewasa. Walaupun seluruh karakter dalam game adalah orang dewasa, Steam tampaknya menilai kontennya terlalu kontroversial untuk dipublikasikan. Adegan tertentu yang menampilkan manusia “kuda” tanpa busana disinyalir menjadi pemicu utama pelarangan.

Yang membuat kasus ini semakin rumit adalah bahwa Santa Ragione sebenarnya telah melakukan revisi. Ada satu adegan yang semula memperlihatkan sosok wanita membawa seorang anak kecil di punggungnya adegan tersebut kemudian diganti sepenuhnya dengan karakter dewasa agar tidak memicu kesalahpahaman. Meski revisi sudah dilakukan, Steam tetap menolak game itu tanpa memberikan jalan untuk negosiasi atau tinjauan ulang.

Bagi banyak developer indie, keputusan seperti ini terasa tidak adil. Selain tidak transparan, pelarangan konten tanpa diskusi sering kali mematikan potensi kreativitas dan eksperimen yang menjadi ciri khas game indie.

Dampak Besar bagi Santa Ragione

Tidak hanya masalah artistik, keputusan ini membawa dampak ekonomi yang jauh lebih berat. Steam adalah pasar terbesar untuk game PC menguasai lebih dari 70% distribusi digital. Hilangnya akses ke platform ini membuat peluang penjualan HORSES turun drastis.

Santa Ragione menyebut bahwa mereka telah menghabiskan lebih dari 100 ribu dolar untuk pengembangan HORSES. Biaya tersebut sebagian besar berasal dari pinjaman, bantuan teman, dan dana pribadi, karena proyek sebelumnya tidak sepenuhnya menutup biaya operasional studio.

Karena tidak bisa masuk ke Steam, studio kini mengakui bahwa mereka berada dalam risiko serius untuk tutup jika HORSES gagal mencatat penjualan yang memadai di platform lain. Dampak ini semakin memperlihatkan bagaimana keputusan satu platform besar dapat mengubah arah hidup dan masa depan sebuah studio kecil.

Rencana Peluncuran Alternatif

Meski ditolak Steam, Santa Ragione memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan HORSES. Mereka mengumumkan bahwa game tersebut akan dirilis di beberapa platform alternatif seperti:

  • Epic Games Store
  • GOG
  • Itch.io
  • Humble Store

Langkah ini disambut hangat oleh komunitas indie, karena menunjukkan bahwa developer masih memiliki ruang untuk berkarya meski tidak mendapat dukungan dari platform terbesar sekalipun.

Namun, realistisnya, penjualan di platform tersebut tidak akan semasif di Steam. Artinya, masa depan studio masih berada dalam ancaman, kecuali HORSES mendapatkan perhatian besar dari komunitas gaming secara organik.

Reaksi Komunitas dan Perdebatan yang Muncul

Keputusan Steam ini memicu diskusi hangat di media sosial, forum gaming, dan komunitas developer. Ada dua kubu besar dalam perdebatan tersebut:

  • Kubu yang menilai Steam berlebihan
    Mereka berpendapat bahwa HORSES bukan pornografi dan tidak menampilkan konten eksplisit terhadap anak di bawah umur. Game tersebut justru menghadirkan horor psikologis dengan tema simbolis yang berat mirip dengan film-film festival yang mengusung tema kontroversial.
  • Kubu yang menganggap keputusan Steam wajar
    Mereka menilai bahwa visual manusia telanjang berkepala kuda berpotensi disalahartikan atau menimbulkan pelanggaran jika terjadi salah interpretasi. Karena itu, Steam dianggap hanya “bermain aman”.

Perdebatan ini kembali membuka diskusi lama: sejauh mana platform berhak mengontrol kreativitas pembuat game? Dan apakah sensor berlebihan dapat membunuh inovasi?

Kisah Pahit dalam Dunia Game Indie

Kontroversi HORSES menjadi cermin bahwa industri game tidak hanya berputar di sekitar kreativitas dan ide liar. Ada faktor ekonomi, kebijakan, dan sensor yang juga menentukan apakah sebuah karya bisa dilihat dunia atau dikubur dalam diam.

Santa Ragione kini berada di persimpangan melanjutkan perjuangan tanpa kepastian. HORSES mungkin bukan game untuk semua orang, tetapi kasus ini menunjukkan betapa mudahnya karya independen terhambat oleh batasan platform yang tidak selalu jelas.

Apapun akhir dari perjalanan ini, HORSES telah membuka percakapan penting tentang kebebasan artistik, batas moral, dan peran raksasa industri dalam mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dinikmati oleh para pemain.

Posted in
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai