
RAHASIAGAME. Industri game internasional kembali diguncang oleh pengakuan mantan pengembang MindsEye, sebuah game yang sempat menjadi sorotan karena peluncurannya yang kontroversial. Studio Build a Rocket Boy, yang didirikan oleh Leslie Benzies, menjadi pusat perhatian setelah beberapa mantan staf mengungkapkan perlakuan tidak adil yang mereka alami selama pengembangan.
Informasi ini muncul melalui surat terbuka yang dipublikasikan oleh IWGB Game Workers, serikat pekerja yang mewakili para pengembang game di berbagai studio. Surat ini memberikan gambaran nyata tentang tekanan dan ketidakadilan yang dialami staf di balik layar, sesuatu yang jarang terlihat oleh publik.
Tekanan dan Kekacauan dalam Proses Pengembangan
Para mantan pengembang mengungkapkan bahwa kurangnya transparansi dan komunikasi dari manajemen menjadi masalah utama. Menurut mereka, keputusan strategis yang mengubah jalannya pengembangan sering kali dilakukan tanpa konsultasi dengan tim. Hasilnya, banyak pengembang yang merasa kebingungan dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Mereka menilai, perubahan ini menyebabkan ketidakteraturan yang signifikan, terutama dalam bulan-bulan terakhir sebelum peluncuran game. Dampaknya, peluncuran MindsEye tidak berjalan mulus dan menuai kritik dari komunitas, baik dari sisi teknis maupun gameplay.
Jam Kerja Berlebihan dan Kelelahan Staf
Salah satu isu yang paling mencolok adalah kewajiban lembur berjam-jam. Dalam empat bulan terakhir sebelum rilis, setiap staf diwajibkan bekerja tambahan delapan jam per minggu. Ironisnya, waktu istirahat yang semestinya diberikan selama jam kerja tambahan ini sering kali tidak bisa dimanfaatkan karena tuntutan proyek yang tinggi.
Akibatnya, staf mengalami stres fisik dan mental, yang berdampak langsung pada produktivitas serta kualitas kerja. Bahkan setelah peluncuran, tekanan ini tetap terasa, menunjukkan kurangnya perhatian manajemen terhadap kesejahteraan pegawai.
Pemutusan Hubungan Kerja yang Bermasalah
Setelah peluncuran yang dipenuhi kontroversi, studio melakukan PHK terhadap beberapa pegawai. Namun, proses ini dinilai tidak adil dan membingungkan. Mantan pegawai melaporkan bahwa informasi mengenai PHK sering salah, termasuk kesalahan pengelompokan tim dan pemberian waktu pengumuman yang tidak sesuai.
Banyak pegawai merasa terkejut dan tidak siap menghadapi pemutusan ini, karena tidak diberikan penjelasan yang jelas mengenai alasan dan prosedur yang diterapkan. Kondisi ini menimbulkan rasa ketidakadilan yang mendalam di antara staf.
Tuntutan dan Harapan Mantan Pegawai
Mantan pengembang menuntut permintaan maaf terbuka dari manajemen dan kompensasi yang layak bagi mereka yang terdampak PHK. Selain itu, mereka menekankan perlunya perbaikan nyata dalam prosedur internal.
Beberapa poin utama yang mereka harapkan termasuk:
- Pengakuan IWGB sebagai serikat resmi untuk memastikan hak-hak pegawai terlindungi.
- Komitmen studio untuk menggunakan mitra eksternal saat melakukan pengurangan staf, agar proses lebih adil.
- Pilihan bagi pegawai yang terkena PHK untuk tetap bekerja hingga akhir kontrak atau menerima kompensasi sepadan.
- Permintaan ini mencerminkan keinginan para pengembang agar hak dan kontribusi mereka dihargai dengan adil, bukan hanya diucapkan secara simbolis.
Pertanyaan Besar Tentang Kepemimpinan
Di akhir surat terbuka, para mantan pengembang mempertanyakan sikap Leslie Benzies dan co-CEO Mark Gerhard, yang sering menyebut pegawai sebagai “keluarga”. Mereka menulis:
“Apakah ini cara kalian memperlakukan keluarga kalian sendiri?”
Pertanyaan ini menjadi simbol kekecewaan dan rasa tidak dihargai, karena janji manajemen yang terdengar hangat tidak tercermin dalam perlakuan sehari-hari.
Pelajaran dari Kontroversi MindsEye
Kasus ini menjadi pengingat bagi industri game bahwa transparansi, komunikasi, dan perlakuan adil terhadap staf adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Studio tidak hanya harus fokus pada peluncuran game yang memukau, tetapi juga pada kesejahteraan pengembang yang membuat game tersebut menjadi nyata.
Selain itu, surat terbuka ini menunjukkan pentingnya serikat pekerja dalam melindungi hak pegawai, terutama ketika menghadapi tekanan tinggi dan keputusan manajemen yang kontroversial.
Kesimpulan
Kontroversi di Build a Rocket Boy dan pengalaman mantan pengembang MindsEye menyoroti sisi gelap di balik pengembangan game AAA. Meski game berhasil diluncurkan, pengalaman internal menunjukkan ketidakadilan yang perlu diperbaiki.
Bagi industri secara keseluruhan, kasus ini adalah pelajaran penting, karyawan yang diperlakukan dengan adil, didengarkan, dan dihargai akan menciptakan produk yang lebih baik, sementara tekanan berlebihan dan komunikasi yang buruk hanya akan menghasilkan kontroversi dan kekecewaan.
Dengan pengakuan publik ini, diharapkan studio-studio lain dapat belajar dan menempatkan kesejahteraan pengembang sebagai prioritas utama, sehingga industri game bisa tumbuh secara berkelanjutan dan harmonis.








